Syariat Menikah
07 Oct 2013

Syariat Menikah

Dahulu, ada seorang sahabat yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak ingin menikah?” Ia menjawab, ” Wahai Rasulullah aku ini orang yang fakir lagi tidak memiliki sesuatu pun.

Namun karena sahabat tersebut dapat pertanyaan yang sama sampai ketiga kalinya dari Rasulullah maka ia pun menjawab, “Wahai Rasulullah nikahkanlah aku!” Kemudian sahabat itu berkata “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai sesuatupun.

Lantas Rasulullah SAW bersabda, “Kumpulkanlah untuk saudara kalian ini, harta setimbang dengan satu nawas emas( kira-kira enam puluh lirah Suriah). Maka mereka pun mengumpulkan harta untuknya dan pergi untuk menikahkannya.

Di antara hal yang sangat menyedihkan adalah jika ada seseorang laki-laki yang ingin meminang seorang wanita, maka ayah wanita tersebut langsung meminta mas kawin serta persiapan/perlengkapan perkawinan yang begitu besar. Bahkan ia berasumsi bahwa permintaannya tersebut merupakan sesuatu yang wajar yang harus dipenuhi. Bukankah seorang istri itu membutuhkan perhiasan, pakaian, berbagai perabotan, ruang makan, ruang tamu, ruang tidur, lemari pendingin,mesin cuci, permadani dan bahkan mobil. Lebih dari itu adalah biaya perayaan akad dan resepsi pernikahan.

Saya tidak hendak mendebat sang ayah tersebut mengenai segala tuntutannya yang keseluruhan atau sebagian besar hanyalah termasuk perkara-perkara sekunder, bukan perkara yang primer. Namun saya hanya akan mengingatkannya pada jumlah mahar puteri Rasulullah SAW serta gambaran dari perlengkapan dan perabotan rumahnya.

Ibnu Abbas berkata, ” Ketika Ali menikahi Fathimah, Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Berilah ia sesuatu!’ Ali menjawab, ‘ Aku tidak memiliki sesuatupun. Lalu Beliau berkata, ‘ Dimana baju besi buatan Bani Khuthamiyah milikmu?’ Ali menjawab, ‘ Ada padaku.’ Beliau berkata, ‘Berikanlah baju besi itu ( sebagai mahar) kepadanya.'”

Jabir berkata, ” Kami pernah menghadiri pesta pernikahan Fathimah dan kami tidak melihat pesta yang lebih baik daripada pesta tersebut. Kami isikan kasurnya dengan rumput kering da kami diberi buah kurma serta kismis, kemudian kami memakannya. Tempat tidur yang disediakan pada pesta tersebut terbuat dari kulit domba jantan.”

Kesimpulannya jelas bahwa jangan karena mahar maka keinginan untuk menikah menjadi punah,  data-data statistik pemuda maupun pemudi yang belum memasuki kehidupan rumah tangga sampai sejauh ini mengingatkan kita akan ancaman bencana yang menakutkan baik sosial, politik maupun moral.

Tuntunanya sudah jelas jadi nunggu apalagi?

 

Disarikan dari Buku Bekal Pengantin Penerbit Aqwam.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Naning - Perias Pengantin